Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 07 November 2011

PEMBERIAN OBAT/ MEDIKASI


I. PENDAHULUAN
-  Pemberian obat/ medikasi yang aman dan akurat adalah tanggung jawab penting.
-  Pemberian obat adalah cara utama terapi yang diprogramkan oleh dokter untuk mengobati masalah kesehatan klien/pasien (terapi medis).
-  Perawat melakukan fungsi kolaboratif dalam memberikan tindakan  pengobatan secara medis.
-  Meskipun obat menguntungkan, tapi pemberian obat bukan tanpa reaksi yang merugikan.
-  Oleh karena itu, perawat harus :
  1. Mengetahui tentang prinsip-prinsip keamanan dalam pemberian obat dan pemantauan hasilnya.
  2. Memberi perhatian yang ketat serta menjaga keakuratan dalam persiapan obat dan pemberiannya.
  3. Memperhatikan ”prinsip lima benar” (enam benar) dalam pemberian obat.
  4. Melakukan pendokumentasian.
-  Pemberian obat kepada pasien terdapat beberapa cara, yaitu melalui rute :
  1. Oral/mulut
  2. Parenteral/jaringan
  3. Rektal/anus
  4. Vagina
  5. Kulit
  6. Mata
  7. Telinga
  8. Hidung

II. PEMBERIAN OBAT SECARA PARENTERAL/INJEKSI
C  Pemberian obat secara parenteral atau injeksi adalah prosedur invasif yang melibatkan deposisi obat melalui jarum steril yang dimasukkan (diinsersikan) ke dalam jaringan tubuh.
C  Pemberian obat secara parenteral atau injeksi dapat dilakukan melalui rute :
  1. Intrakutan/IC (di dalam jaringan kulit)
  2. Subkutan/SC (di bawah jaringan kulit)
  3. Intramuskular/IM (di dalam jaringan otot)
  4. Intravena/IV (di dalam pembuluh darah vena)


III. PRINSIP-PRINSIP PEMBERIAN OBAT
p  Prinsip pemberian obat ”lima benar” secara umum, terdiri dari :
  1. Benar obat
  2. Benar dosis
  3. Benar klien
  4. Benar rute/ cara
  5. Benar waktu
  6. Benar dokumentasi (”prinsip enam benar”)
p  Prinsip pemberian obat parenteral/injeksi secara khusus :
  1. Mempertahankan tehnik aseptik dan steril.
  2. Memastikan ketepatan lokasi/area penyuntikan.   

IV. MENYIAPKAN OBAT INJEKSI
A.    Persiapan Alat :
  1. Obat yang dapat tersedia dalam :
w  bentuk : serbuk/obat kering ataupun cair
w  wadah : ampul maupun vial/flacon 
  1. Spuit dan jarum sesuai ukuran
  2. Kapas alkohol dalam tempatnya
  3. Bak spuit
  4. Bengkok
  5. Gergaji ampul bila perlu
  6. Kassa
  7. Pelarut/pengencer (air steril/aquabidestilata, salin normal)
  8. Buku obat
B.     Prosedur Kerja
  1. Cuci tangan
  2. Cek order/pesanan
  3. a. Ampul
o   Ayunkan/ketuk bagian atas ampul dengan jari secara perlahan dan cepat sampai cairan memasuki ruang bawah ampul.
o   Tempatkan kassa di leher ampul.
o   Patahkan leher ampul ke arah menjauh dari tangan anda. 
o   Pegang ampul ke arah atas atau miring kanan, masukkan jarum spuit ke dalam tengah lubang ampul (jangan menyentuhkan ujung atau batang jarum pada patahan ampul).
o   Isap obat dengan cepat dengan menggunakan jarum yang cukup panjang untuk mencapai dasar ampul, ke dalam spuit dengan menarik penghisapnya (plunger).
o   Pertahankan ujung jarum di bawah permukaan cairan, atur ampul agar semua cairan dalam isapan jarum.
o   Bila ada gelembung udara yang teraspirasi (terhisap), jangan mengeluarkan udara ke dalam ampul. Untuk mengeluarkannya, pegang spuit dan jarum menghadap ke atas, tarik penghisap perlahan dan dorong ke atas untuk mengeluarkan gelembung, jangan mengeluarkan cairan.
o   Bila ada kelebihan cairan, keluarkan perlahan dengan cara pegang spuit dan jarum vertikal ke atas sedikit miring ke arah pembuangan.
o   Tutup jarum dengan penutup amannya, dan bila perlu ganti jarum.     
o   Beri identitas pasien yang jelas.     

b. Vial
o   Lepaskan penutup untuk membuka penutup karet, bila penutup sudah terbuka usap permukaan tutup karet secara kuat dan cepat dengan kapas alkohol dan biarkan mengering.
o   Tarik penghisap untuk mendapatkan sejumlah udara yang sama dengan volume obat yang dihisap.
o   Letakkan vial pada permukaan datar menghadap ke atas, tusukkan jarum pada bagian tengah penutup karet.
o   Injeksikan/masukkan udara ke dalam vial.
o   Balik vial sambil tetap memegang spuit, pegang ujung tabung spuit dan penghisap dengan ibu jari dan jari tengah dominan.
o   Pertahankan ujung jarum di bawah tinggi cairan.
o   Biarkan obat masuk ke dalam spuit, tarik penghisap bila perlu.
o   Ketuk sisi tabung spuit untuk menghilangkan gelembung udara, keluarkan udara yang masih ada di atas spuit ke dalam vial.
o   Bila volume yang tepat didapatkan, lepaskan jarum dari vial  dengan menarik pada bagian tabung spuit.
o   Bila ada kelebihan gelembung udara keluarkan dengan cara pegang spuit dengan jarum menghadap ke arah atas dan ketuk tabung spuit untuk menghilangkan gelembung. Tarik penghisap perlahan dan dorong ke atas untuk mengeluarkan udara, jangan mengeluarkan cairan.
o   Tutup jarum dengan penutup amannya, dan ganti jarum dengan yang baru.
o   Beri identitas pasien yang jelas.     


Catatan :
o   Bila obat dalam vial berbentuk kering maka harus dilarutkan dulu dengan pelarut, ataupun bila perlu dilakukan pengenceran pada obat-obat tertentu. Pelarutan ataupun pengenceran harus dilakukan sesuai dengan perhitungan yang tepat. Hal ini juga berlaku pada obat dalam ampul.
o   Untuk obat yang multidosis, buat lebel yang mencakup tanggal pembukaan, pencampuran, konsentrasi obat per ml dan paraf perawat.

V. RUMUS PENGHITUNGAN DOSIS OBAT
Contoh sederhana :
1.      Obat Ampicillin 1 vial berisi 1000 mg/1 g obat kering diencerkan/dioplos dengan 4 cc pelarut/air steril, hal ini berarti bahwa :
-          Dalam setiap 1 cc obat mengandung 250 mg (1000 mg/4 cc = 250 mg)
-          Bila menggunakan spuit 3 cc (1 cc = 10 strip), berarti tiap 1 strip = 25 mg (250mg/10 strip = 25 mg)
-          Bila pasien mendapatkan dosis 3 x 500 mg, berarti obat dihisap sampai 2 cc (250mg x 2 cc = 500 mg atau 500 mg/250 mg = 2 cc) setiap kali dilakukan injeksi dalam satu hari 3 kali diberikan dengan interval/jarak pemberian setiap 8 jam (24 jam/3 = 8 jam) secara IV.   
2.      Obat Penicillin-G Procain (PP) 1 vial berisi 3 g (3.000.000 units) obat kering diencerkan/dioplos dengan 10 cc pelarut/air steril, hal ini berarti bahwa :
-          Dalam setiap 1 cc obat mengandung 300.000 unit (3.000.000 unit/10 cc = 300.000 unit)
-          Bila menggunakan spuit 5 cc (1 cc = 5 strip), berarti tiap 1 strip = 60.000 unit (300.000 unit/5 strip)
-          Bila pasien mendapatkan dosis 2 x 900.000 unit, berarti obat dihisap sampai 3 cc (300.000 unit x 3 cc = 900.000 unit atau 900.000 unit/300.000 unit = 3 cc) setiap kali dilakukan injeksi dalam satu hari 2 kali diberikan dengan interval/jarak pemberian setiap 12 jam (24 jam/2 = 12 jam) secara IM.
-          Bila pasien mendapatkan dosis 1.000.000 units (1 g) berarti obat diencerkan dengan 9 cc pelarut sehingga lebih mudah pembagiannya. (3.000.000 units/9 cc, sehingga setiap 3 cc berisi 1.000.000 units)

Catatan : Pengenceran obat ini dapat disesuaikan dengan prosedur tetap yang ada di RS atau berdasarkan kebutuhan serta pedoman pelarutan obat yang baku.

Tidak ada komentar: